honey;

i tasted like honey;
a melting sweetness,
sickening sugar,
equally ambrosia-like.

but darling, darling,
you never knew I was a poison.

Advertisements

tatap pertama;

Akhir tahun adalah saat-saat paling sibuk bagi fotografer seperti Baek Kihyun. Bulan ini, ia mendapat berbagai macam tawaran pekerjaan untuk sejumlah acara. Terhitung dari awal bulan Desember, ada sekitar sepuluh klien yang menjalani sesi pemotretan pranikah, tujuh acara pernikahan, lima sesi pemotretan pribadi, dua acara Natal, dan penutup manis bulan sekaligus tahun ini: sebuah acara akbar menyambut tahun baru di Seoul. Saking sibuknya, Kihyun memindahkan sebagian dari isi lemarinya di mobil—termasuk tiga setel jas, kemeja dalam berbagai warna, celana panjang, dan pakaian kasual—untuk memudahkan dirinya berganti baju setelah pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya. Continue reading

setengah, setengah, satu;

// 1999

“Sebentar lagi, Nyonya! Bertahanlah!”

Jeritan pecah sekali lagi, memenuhi ruangan berdinding putih dengan pencahayaan tinggi. Seorang wanita muda bermasker menyeka peluh (yang mungkin bercampur dengan air mata juga) di wajah wanita lain yang tengah berjuang.

Berjuang membawa nyawa baru di dunia ini.

Wanita yang tengah menjalani proses bersalin itu menarik napas yang terengah-engah, kemudian mengerang kala sakit di leher rahimnya menyerang kembali. Untuk sesaat ia berpikir untuk mati saja ketimbang merasa sakit yang luar biasa seperti sekarang. Tangannya menyengkeram seprai putih di bawahnya yang kini ternoda darah. Lagi. Ia harus kuat.

“Terus, sedikit lagi torsonya akan keluar sepenuhnya.”

Sedikit lagi.

Dan suara tangisan bayi nyaring memecah suasana tegang tersebut, serta menenangkan hati sang ibu yang mengambil napas dalam-dalam. Sudut matanya basah, kali ini bukan karena keringat. Hatinya sedikit lega, melihat anaknya sehat dan bertubuh lengkap, tampaknya juga periang, melihat kaki dan tangannya sesekali meronta.

Tetapi, semuanya belum selesai. Kontraksi datang lagi, membuat wanita itu kembali berteriak kesakitan. Otaknya tak dapat berpikir lagi, hanya memerintah dirinya agar tetap kuat dan mendorong, seperti tadi. Sayang, kini mentalnya tak sekuat melahirkan yang pertama.

“Kalian berbohong! Aku meminta epidural!” Seruan tersebut ada benarnya, karena beberapa minggu yang lalu, ia membayar ongkos bius lokal yang akan ditusukkan pada tulang punggungnya yang terbawah agar tidak perlu merasakan sakit seperti ini. Ia meringis kesakitan, kemudian menangis. Apakah kali ini ia dapat bertahan? Tidak, ada yang lebih penting: apakah anaknya dapat bertahan?

“Maaf, Nyonya. Perawat-perawat yang bertanggung jawab dalam obat-obatan tidak cukup. Banyak, bahkan semua dari mereka berjaga di ruang bedah.”

“Brengsek, diamlah!”

Napasnya pendek. Berteriak-teriak menghabiskan tenaganya. Ia merasa pening sekarang. Diraihnya tangan seorang perawat yang berada di dekatnya, berusaha keras menyampaikan kondisinya dengan menggenggam lengan itu. Perawat yang disentuh terbelalak, kaget.

“Nyonya?”

Mata itu setengah redup.

“Denyutnya… Clem, Ambilkan tabung oksigen!” Perawat itu menaikkan alis, sesekali mengubah posisi ibu jarinya untuk mencari detak, sekalipun lemah.

Satu,

Dua,

Ada.

Roda di bawah sebuah tabung yang berasal dari ujung ruangan bergesek pada lantai, meninggalkan bekas berwarna abu pekat yang samar sampai ke dekat tempat tidur. Perawat yang dipanggil Clem menghubungkan selang dan masker dengan tabung, kemudian menganggukkan kepala sebagai isyarat kepada mitranya untuk mengangkat tubuh wanita itu sedikit. Masker telah dipasang, tinggal menunggu reaksi sang ibu.

Clem menatap sang bidan, yang menunggu bayi bermandikan ketuban dan darah itu keluar lagi, leher ke bawah. Pandangannya berpindah pada temannya yang mengecek denyut nadi. Ia melihat uap air membentuk di masker tersebut.

“Ayo, ayo, ayo…” Harapnya, uap iu membesar. Ia tidak pernah menyukai ketegangan seperti ini, meski sudah menjadi bagian psikologis dari tugasnya. Diperhatikannya baik-baik pola uap air yang kian membesar. Senyuman pun terbentuk di wajah Clem. Syukurlah, nyonya tersebut masih berada bersama mereka. Perawat yang lain langsung mendekat, berucap dengan suara kecil sembari memijat pundak itu sebagai dukungan.

“Nyonya, bertahanlah. Anak anda yang kedua butuh pertolongan anda untuk keluar.”

Wanita itu mengangguk kecil, dan kembali mendorong, sekuat tenaga. Bersamaan dengan itu, dentang si tua Glockenspiel terdengar, memberitahukan kepada orang-orang bahwa tengah malam telah tiba. Ramainya kota pun sampai di pendengarannya dalam gedung rumah sakit. Wanita muda tersebut menarik napas, meraup oksigen di masker dalam-dalam. Pertama, ia harus percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja, ‘kan? Lalu kedua, ada yang lebih membutuhkan pertolongan selain dirinya. Buah hatinya yang bungsu. Keringat kembali membasahi tubuhnya—yang langsung disertai dengan dingin—dan ia kembali mendorong.

Kalau bukan dirinya yang berjuang untuk anaknya, siapa lagi yang akan?

Sekelilingnya berubah menjadi warna putih untuk sesaat. Kunang-kunang berterbangan di matanya, lalu pergi, memperlihatkan bayi dalam dekapan si bidan. Senyum puas dan bahagia nan lemah tersemat di wajahnya.

“Kerja bagus, Nyonya Reger. Anda melahirkan dua putri yang sehat dan lahir di dua hari, bulan, dan tahun yang berbeda” ujar Clem, terkekeh melihat bayi kecil itu menangis terputus. Sama lelahnya seperti sang ibu, tampaknya. Perawat yang lain sedang membasuh tubuhnya dengan sebuah spons yang lembab dan beraroma antiseptik. Sang bidan pun sedang menyeka darah dan ketuban dari tubuh mungil itu. Kala tatapan mereka bertemu, bidan paruh baya itu berkata sambil menepuk pelan kakinya yang berselimut.

“Istirahatlah dulu, kami akan merawat putri-putri anda.”

// 2016

Liburan tahun baru adalah salah satu hal yang paling Amaranthine nantikan di penghujung bulan Desember. Bukan hanya karena rumahnya masih berhiaskan ornamen-ornamen Hari Natal dan acara keluarga tahunan yang membuat rumahnya dipenuhi makanan-makanan enak yang jarang ia nikmati di hari-hari biasa. Bukan pula karena kembang api akan menghias langit musim dingin yang pekat saat jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam, atau keberadaan sepupu-sepupu mereka, Nadja dan Klaus.

Hari ini, hari ke-366 tahun 2016, adalah ulang tahunnya yang ketujuhbelas.

Sudah lewat empat puluh menit sejak seluruh anggota keluarga besar dari ayahnya berkumpul dan bercakap-cakap di ruang tengah—kini mereka terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Ada ayahnya, yang mengisap cerutu bersama Paman Nikolaus, ditemani dengan botol-botol bir dan kudapan seperti keripik kentang. Di ujung ruangan, Nadja tengah menceritakan entah apa kepada ibunya. Mungkin tentang kehidupan kuliahnya, atau tentang pacarnya yang merupakan seorang dokter di rumah sakit swasta kota tempat tinggal mereka, atau bahkan hanya berbagi resep masakan. Klaus dan Bibi Klaudia tengah mengambil beberapa piring kosong yang tergeletak di atas meja makan. Ia sendiri sedang duduk di balkon kamarnya, menatap salju berjatuhan di depannya. Ekspresi tertarik terlukis jelas di wajahnya, terlihat dari maniknya yang membulat melihat salju yang berkilauan karena lampu kamarnya yang redup.

Sementara itu Alexandrine, adik kembarnya, menguap lebar dan menyandarkan kepalanya ke dinding. Lexa menempelkan kedua tangannya pada kedua belah pipi, membuat pengganti penghangat ruangan.

“Lexa, jangan ngantuk dong. Sebentar lagi, ‘kan, ulang tahun Lexa!”

Ya, benar. Ulang tahun adiknya jatuh pada tahun baru. Sebuah kebetulan yang tepat, ‘kan? Disentuhnya pipi adiknya, yang hanya memandang malas rumah-rumah di kota Munich sembari menguap untuk kesekian kalinya.

“Ih, semangat dong! Sebentar lagi Lexa juga jadi tujuh belas tahun seperti Mara.” Cengiran riang menghias wajah sang kakak. Semoga saja keceriaannya menular. Ia tidak mau merayakan esok pagi saja karena tengah malam adalah satu-satunya waktu di mana mereka berdua dapat merayakan momen menjadi tua bersama. Lagipula, menunggu pagi hari membosankan. Akan ada banyak orang menyelamati adiknya.

Sayang sekali, agaknya Alexa tidak begitu semangat untuk menginjak usia dewasa. Gadis itu hanya menatapnya dengan tatapan setengah kosong setengah mengantuk dan berkata.

“Mara, Lexa boleh tidur dulu, tidak?”

Padahal, kurang dua puluh menit lagi sebelum jarum jam panjang dan pendek bertemu di titik yang sama. Mara cemberut dan ikut bersandar pada tembok.

“Kalau Lexa ketiduran bagaimana? Tidak seru kalau nanti kelewatan.”

“Tapi Lexa ngantuk, juga bosan.”

Amara menarik napas. Tidak bisa disalahkan juga, ini menjadi semacam ritual mereka kala menyambut tahun baru. Wajar saja bila adiknya merasa bosan menunggu tiap detik berlalu hingga warna-warni di malam kelam bermunculan.

“Kalau begitu…” Telunjuk Mara mengetuk tulang rahang dua kali, memutar otak demi membuat sang kembaran tidak merasa jenuh. Lexa kembali menguap. Ia ingin segera menyentuh tempat tidur dan selimut hangatnya, lalu berangkat menuju pulau kapuk menyongsong pagi hari yang diawali dengan segelas coklat jahe. Kembar tertua itu masih memeras otak, mencari berbagai cara untuk membuat Alexa terjaga selama sembilan belas menit ke depan…

“… Ceritakan tentang cowok yang sedang Lexa sukai.”

… dengan pertanyaan acak yang berbasis kabar burung dari teman-temannya yang sekelas dengan Alexa. Benar atau tidak, urusan belakangan. Sementara itu, yang ditanya hanya mengernyit, sama sekali tidak tahu harus menjawab apa lagi selain satu silabus penuh makna.

“Hah?”

“Mara mendengar dari Karmelitta. Lexa sedang dekat sama cowok, ya? Kenapa tidak cerita-cerita sih?”

Lagi, Alexa terdiam. Kerutan pada dahinya semakin dalam. Siapa? Seingatnya ia tidak menyukai siapa-siapa… Oh, benar. Ada seseorang yang memang dekat dengannya, tetapi tidak dalam artian seperti itu (setidaknya dalam pikirannya)—seperti dalam roman picisan di buku atau film. Seseorang yang akan ikut menoleh kala mereka sedang bersama.

“Katanya, nama kalian kembar. Inisialnya pun sama.”

Tuh ‘kan, spekulasinya benar. Nama laki-laki yang dimaksud Amara adalah versi maskulin dari Alexandrine, namanya sendiri. Alexander Rasmussen—yang bila disingkat memiliki singkatan yang sama dengan namanya juga, adalah salah satu teman sekelas yang sering menemaninya mengerjakan urusan komite kesiswaan ataupun tugas sekolah. Entah siapa yang melihat dan langsung menarik kesimpulan bahwa mereka dekat sebagai bibit-bibit pasangan kekasih, ia tidak peduli ataupun mau tahu.

“Mengapa Mara bisa berpikir kalau Lexa sedang berpacaran dengan Alex, sih?”

Pertanyaan yang barusan dilontarkan memancing reksi yang tidak ia duga—Amaranthine membelalakkan matanya dan menatapnya dengan penuh perhatian. Ah, apa lagi, sekarang?

(Tanpa sadar, kantuknya perlahan menghilang.)

“Lexa.” Gadis yang lebih tua memanggil sang adik. Tidak menyangka, ada reaksi yang mungkin menunjukkan kebenarannya. “Mara tidak pernah bilang kalau Lexa sama Alex pacaran, lho.”

Bagaikan petir yang menyambar sebuah kapal yang mengambang di laut diselimuti badai, kalimat barusan menghantam Alexa. Buru-buru, tangannya menutupi mulut, mencegah dirinya agar tidak salah berkata-kata lagi. Raut serius Mara berubah menjadi senyuman puas nan usil. Kekehan menggaung di jalanan yang sepi itu.

“Jadi, Lexa beneran suka sama Alex? Wah!”

Kuat-kuat ia menggeleng, lalu memegang pundak Amara yang masih tersenyum lebar, mungkin tengah tenggelam dalam bayangan memiliki Alexander Rasmussen sebagai ipar. Lalu mengapa bila mereka sering duduk bersandingan di perpustakaan? Bukan berarti Alexa sering memperhatikan wajah Alex kalau mengantuk, dengan mata setengah terpejam yang hendak menyembunyikan sel biru tajam dan lesung pipit samar—mengapa ia malah membayangkan Rasmussen yang kurang tidur karena mengurus acara sekolah sampai malam? Ditepuk-tepuk pipinya sendiri.

“Mara, Lexa tidak ada apa-apa sama Alex!”

“Tapi kenapa wajah Lexa merah sekali?”

Panik melanda. Refleks, gadis itu meraba wajahnya sembari berharap rona tersebut tidak hinggap, hanya kebohongan yang dibuat oleh kembarannya agar ia mengakui sesuatu yang tidak benar. Selagi mengalihkan pandangan, tatapan Alexa membentur pintu kaca yang membatasi balkon dan kamarnya dan saudarinya. Sial, mengapa wajahnya mengkhianati, sih?

“Tidak apa-apa, lho, Lexa. Alex kan cowok yang baik. Yah, meski Mara belum pernah ngobrol langsung dengannya…”

Keinginannya untuk terjun bebas dari balkon lantai dua ke tanah bersalju terlalu besar untuk tidak dituruti. Andai saja patah tulang tidak sakit, ia akan segera menjatuhkan diri tanpa pikir panjang. Atau, kau tahu, kabur ke lantai satu dan bergabung bersama Nadja, meminta perlindungan kakak sepupunya. Masa bodoh dengan gestur kekanakan tersebut.

“Mara, Lexa juga serius. Tidak ada apa-apa di antara Lexa dan Alex.”

Hanya sering sekelompok dalam proyek grup, itupun karena nomor urut yang berdekatan. Setidaknya itu yang Reger bungsu pikirkan, membatasi segala kemungkinan yang tumbuh semenjak beberapa bulan yang lalu. Amaranthine kali ini diam saja dan memeluk Lexa, erat. “Tidak apa-apa, Mara akan menganggap Lexa menjawab iya.”

Oh, lihat. Jam tangannya menunjukkan pukul 11.59. Satu menit tersisa sebelum adiknya menginjak angka yang sama dengan usianya. Rengkuhannya dilepas. Manik biru kehijauan memindai sosok yang nyaris seperti cermin di hadapannya. Kantuk yang semula singgah telah tersapu bersih dari wajah Alexandrine.

“Ck. Terserah Mara, deh.”

Debar jantung itu tidak berbohong, tentu saja.

Alexandrine mungkin kini tidak melihatnya. Tetapi di mata Amaranthine, semuanya terlihat jelas. Tersirat di sudut bibir yang mengangkat ketika nama pemuda Rasmussen dibawa-bawa semenjak tadi, sama seperti rona merah yang muncul di permukaan kulit pucatnya dan binar di bola kaca penglihatan Alexa ketika terdiam. Ia bukan cenayang, namun ia tahu dalam kebisuan singkat itu, Alexander Rasmussen akan memenuhi seluruh sudut kepala adiknya.

“Maaf, maaf, Mara hanya bercanda, kok.” Gadis itu mendekatkan tubuhnya pada sang kembaran, tepat saat beker pada arlojinya berkumandang dan seruan orang-orang nun jauh di sana. Manik Lexa tertambat pada kedua jarum jam yang menindih angka dua belas. Sudah tengah malam. Dirasakan pelukan kakaknya makin erat. Ia balas dekapan itu dengan tulus.

“Selamat ulang tahun, Lexa.”

“Selamat ulang tahun juga, Mara.”

Keduanya terkikik geli, menyaksikan kembang api pertama yang mirip seperti butiran salju. Alexandrine menatap kakaknya dan mengembuskan napas. Mereka bilang sepasang anak kembar memiliki semacam kemampuan telepati. Mungkin ada benarnya, orang-orang itu. Karena entah mengapa, perasaannya mengatakan bahwa Mara takut tidak biasa dengan keberadaan orang lain. Itulah mengapa Amara bertanya, meski dalam pendengaran orang lain, hal tersebut hanyalah pertanyaan random biasa.

“Alex atau bukan, Lexa tidak bakal pisah sama Mara, kok.” Lexa membelai surai-surai halus kakaknya yang dirangkai dalam kepangan fishtail. Mara tersenyum dan memeluk adiknya lebih erat.

“Awas kalau bohong.”

“Ih, siapa juga yang mau bohong.” Si bungsu mencubit pipi kakaknya, sampai rintihan terselip dari bibir Mara yang terkatup.

Lagipula, sampai kapan pun, saudari kembar akan selalu bersama

liquor kopi dalam gelas;

Sepasang manik biru keabuan tiada henti memandang ke luar jendela, berandai apa saja yang tetangganya sedang lakukan di liburan musim salju. Pria tua di rumah seberang—mungkin ia sedang menghabiskan waktu dengan membaca sebuah buku baru bersama dengan anjingnya di depan perapian. Rumah di sebelah kanan nampaknya kebanjiran kerabat dari berbagai penjuru kota di Britania Raya—kontras dengan rumah sebelah kiri yang ditinggali oleh kakak beradik yang sedang pergi berlibur ke Gili Trawangan, sebuah pulau di Indonesia. Semua penghuni rumah tersebut nampaknya diliputi suasana liburan yang menyenangkan.

Sedangkan ia, Joanna Baxter-Fornier, menikmati bulan terakhir tahun ini ditemani kata sepi.

Continue reading

a very late season greetings!

Merry Christmas 2016 and Happy New Year 2017 to everyone! I pray that ’17 will be your year❤️

I haven’t posted anything since… well, my latest post. So I decided to contribute my very first post in this year to my…

*drum rolls*

My short stories compilations!
This is one of the greatest achievement in my life (yeah no shite because I am a lazy-beyond-belief potato) woohoooo! And guess what, college actually made me do this HAHAHA. Maybe, after the final examinations, I will review and edit the stories mercilessly and send it to a publisher or something.

Anyways, why The Theory Of Winter? Because the shorts here are set in winter. I have never actually felt the real winter—only heard, saw, and listened to the depiction of winter in songs, films, books, etc. Theoritically. Hence the title.

The characters are fictional, yet so precious to me. Some are not my creation, really, they are my best-friends’ hehe❤️ But again, I kind of ‘treat’ them like my own children and I love them so much, so much that I want them to be a part of this book.

There are five stories and all of them are love-oriented (lol I’m sorry I’m such a melancholic). Probably going to post all of them in this blog… Just wait!;)

Last but not least, I hope I can muster up more courage so this book will appear soon in your nearest bookstore. Hehe.

Cheerio!

c.l.