liquor kopi dalam gelas;

Sepasang manik biru keabuan tiada henti memandang ke luar jendela, berandai apa saja yang tetangganya sedang lakukan di liburan musim salju. Pria tua di rumah seberang—mungkin ia sedang menghabiskan waktu dengan membaca sebuah buku baru bersama dengan anjingnya di depan perapian. Rumah di sebelah kanan nampaknya kebanjiran kerabat dari berbagai penjuru kota di Britania Raya—kontras dengan rumah sebelah kiri yang ditinggali oleh kakak beradik yang sedang pergi berlibur ke Gili Trawangan, sebuah pulau di Indonesia. Semua penghuni rumah tersebut nampaknya diliputi suasana liburan yang menyenangkan.

Sedangkan ia, Joanna Baxter-Fornier, menikmati bulan terakhir tahun ini ditemani kata sepi.

Telapak tangannya ditempelkan pada kaca jendela. Lapisan kristal es yang menempel perlahan meleleh oleh kehangatan tangan sang gadis. Butir air bergulir ke bawah, meninggalkan jejak-jejak yang kemudian membeku kembali ditiup angin bulan Desember. Jo—begitu orang-orang memanggilnya—kembali tenggelam dalam lamunan, memikirkan Hari Natal yang melaju semakin dekat. Bukan hadiah, makanan, acara, atau hal-hal lain yang tipikal Natal yang ia pikirkan; isi kepalanya tidak sesederhana itu. Alih-alih kebahagiaan, otaknya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan yang menguras tenaga mentalnya.

“Jo, sayang.”

Sebuah suara berat dengan bau khas cerutu memanggilnya dari ambang pintu. Gadis Baxter-Fornier menoleh ke asal suara dan menemukan sosok sang ayah, masih dalam balutan setelan kerja, tersenyum tipis dan menghampirinya.

“Hai, pa.” Joanna membalas senyum itu—sekilas, tidak lama-lama—dan membiarkan pria itu mengusap rambut pirangnya dengan lembut. Matanya terpejam. Rasanya, dalam dekapan ringan sang ayah, kasih sayang bak sungai yang bermuara ke samudra. Tidak berhenti mengalir kepadanya, tidak terputus sekali pun. Kehidupan anak semata wayang, hm.

“Natal tahun ini…,” Kelopak matanya membuka, memancarkan sedikit kekalutan yang terdapat di kelereng biru abu-abunya. Tidak, jangan pertanyaan itu lagi, demi apa pun. Joanna segera melepaskan diri dari dekapan dan menatap takut sang ayah. Namun agaknya pria paruh baya tersebut tidak menangkap maksud putri tunggalnya dan tetap melanjutkan perkataannya.

“… Joanna mau merayakannya di mana? Rumah Pa atau rumah Ma?”

Pertanyaan ini, adalah pertanyaan yang memeras otaknya kuat-kuat—pertanyaan terakhir yang ingin ia jawab. Lucu sekali, bagaimana sebuah kalimat saja dapat merusak kebahagiaannya di musim dingin selama delapan tahun terakhir. Gadis itu memecah keheningan dengan menghela napas dan memegang tangan ayahnya yang mulai berkerut. Lengkung palsu pada bibir menghiasi wajahnya, sebelum mulutnya akhirnya melontarkan sebuah jawaban yang selalu mengikuti pertanyaan tahunan dari salah satu orang tuanya.

“Belum tahu, Pa. Akan aku pikirkan.”

Bunyi siul kereta api berkumandang lantang di Stasiun Paddington, meneriakkan keberangkatan sebuah kereta yang akan meninggalkan kota London. Suara roda besi beradu dengan rel kereta berdesing semakin keras, kemudian menjauh dari pendengarannya.

Joanna menyandarkan punggungnya pada bangku. Tersisa dua hari lagi sebelum ayahnya menagih keputusannya—untuk mendapatkan tiket murah ke Dublin, alasan pria Fornier. Selama kurang lebih satu windu, ibunya berada jauh dari tanah Inggris tanpa buah hatinya—hasil dari titah hakim membuat sang ibu tak berkutik.

Jadi begini kisah hidup Joanna secara garis besar: pada suatu hari, seorang pemuda bernama Henri Fornier menikahi Magdalena Baxter dengan harapan menemukan frasa “hidup bahagia selama-lamanya”. Namun setelah sedasawarsa hidup bersama dan bahkan memiliki buah kasih, mereka memutuskan bahwa cinta hanyalah suatu kebohongan—setidaknya di antara mereka. Semenjak itu, Magdalena memutuskan untuk tinggal di Irlandia, 595 kilometer dari mantan suaminya, meninggalkan duplikat versi mudanya di London bersama sang mantan suami.

Angin dingin menerpa muka Jo, menyentuh tiap tulang pada wajahnya yang terlihat suntuk. Dari nyaris empat puluh menit yang lalu ia membiarkan puluhan orang berlalu lalang di depan, membawa koper mereka baik keluar atau masuk dari kereta. Jemari putri Fornier memainkan ujung surai pirangnya untuk mengusir rasa bosan yang melanda. Kedatangan kereta dari Cambridge sudah diumumkan sekitar dua puluh menit yang lalu—di mana sosok tinggi yang biasa menemaninya menikmati senja mendung di London? Usai bermain dengan rambutnya, tangannya berpindah ke keliman mantel, menyentuh setiap kancing sembari menyenandungkan lagu yang baru ia dengar di radio.

Melodinya dihentikan oleh suara koper yang menghantam lantai, tak jauh darinya…

“Bloody hell.”

… dan sebuah umpatan yang segera menangkap perhatiannya secara penuh. Binar mata sang gadis menerang melihat siapa yang menjatuhkan kopernya di tengah keramaian stasiun menjelang Natal.

“Scaz!”

Pemuda pemilik nama tersebut berhenti berkutat dengan kopernya dan menoleh ke arah Joanna yang melambaikan tangannya. Eksterior pemuda itu tampak datar, tetapi Jo tahu betul bahwa ada antusiasme dalam diri Scazen untuk meninggalkan tugas-tugas kuliahnya di Cambridge dan menikmati rintik hujan di kota terbesar di Inggris pada Natal pagi hari.

Sambil menanti langkah Scazen berhenti, Joanna mengerutkan bibirnya. Sesampainya laki-laki jangkung itu di depan dara Baxter-Fornier, tangan kanannya langsung merengkuh figur mungil di hadapannya. Yang dipeluk pun hanya mengulum senyum dan membalasnya dengan tiga kali belaian di punggung bidang laki-laki berusia delapan belas tahun itu.

“Lama.” bisiknya dalam pelukan sang pemuda, yang hanya melengos sambil tetap merangkul dan mengusap-usap helaian pirang halus di hadapannya. “Cerewet. Masih untung aku datang, bocah.”

Cih, memang bukan Scazen Vezzadrauf kalau tidak galak.

“Selamat datang kembali di London, orang galak Jerman.”

“Ya, ya, anak kecil.”

Joanna terkikik geli melihat air muka yang menyajikan kegelian sang pemuda akan julukan yang barusan diucapkannya. Senang sekali rasanya, mendapatkan waktu-waktunya bersama sahabatnya kembali menjelang hari besar—hal itu terlihat pada langkah ceria Jo menuju pintu keluar bersama Scazen.

“Kau tidak ke Dublin?” tanyanya, menarik koper yang sesekali tersendat oleh permukaan jalan yang tidak rata. Dilihatnya bahu Joanna terangkat—masih tidak tahu harus memilih menghabiskan sisa tahun ini bersama siapa, dugaannya. Scazen tahu gadis itu tidak suka mengungkit masalah keluarganya, maka ia pun memutuskan untuk membungkam mulutnya dan berjalan saja sampai di samping sebuah Volkswagen Golf. Alisnya naik satu melihat minivan yang tampaknya anyar tersebut. Spekulasinya pun dibenarkan oleh kunci mobil dengan logo Volkswagen dalam genggaman tangan Jo.

“Kau menyetir? Sejak kapan?” Tas ranselnya dilemparkan ke kursi pada lambung mobil. Joanna menatap tajam pemuda itu.

“Sejak sopir pribadiku pindah ke Cambridge.” Cengiran terbentuk di bibir merah pucat Joanna. Gadis itu kemudian melemparkan kuncinya pada Scazen yang dengan sigap menangkap kunci mobil meski baru saja meletakkan barang-barangnya di baris tengah tempat duduk dan menoleh ke arahnya.

“Ini. Scazen yang setir, ya.”

“Jo, aku baru saja menghabiskan dua jam hari ini untuk perjalanan yang sangat tidak nyaman dan kau menyuruhku untuk mengemudikan mobilmu?”

Joanna mengangguk dengan antusias, seperti anak kecil yang diajak bermain salju. Scazen menghela napas seraya menggulirkan iris birunya ke samping.

“Wow.”

Bukannya ia keberatan, toh rumah Joanna hanya sekitar lima belas menit perjalanan dari stasiun. Langkahnya memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Jo—yang menyambut gestur tersebut dengan senyum lebar. Ia sendiri kemudian memutar lagi dan masuk ke dalam mobil. Joanna tidak berbohong mengenai menyetir sendiri, lihat bagaimana kursi pengemudi memiliki sedikit jarak dari roda setiran dan pijakan kendali.

(Tidak heran, sih. Tinggi Joanna hanya mencapai dadanya, sekitar lima senti di bawah dagunya.)

Tuas yang mengendurkan penahan kursi ditarik. Kursi pengemudi mundur hingga dirasa Scazen memadai untuk tingginya. Kunci mobil dimasukkan ke dalam slot dan diputar hingga derum mesin mobil terdengar.

Pemuda berusia delapan belas tahun itu menoleh ke arah Jo yang duduk di sampingnya sambil memainkan sabuk pengaman yang melintang.

“Jo, kita mau ke mana?” Mendengar perkataan si pemuda, tawa kecil lolos dari bibir sang gadis. Aksen Jerman Scazen masih belum hilang meski sudah beberapa tahun pindah ke Inggris, rupanya.

“Terserah, mau ke rumahmu atau rumahku dulu, tidak ada bedanya, kok.” Kediaman keluarga mereka hanya terpisah tiga rumah, jadi sedikit jalan-jalan menembus tumpukan salju bukanlah masalah bagi keduanya. Scazen mendecak seraya mengetuk-ngetukkan ujung jemarinya ke roda setir, memikirkan urutan yang terbaik. Ia menyalakan lampu sein, melewati berbagai macam toko dan membelokkan mobil dara Baxter-Fornier ke kanan. Kedua biner milik Scazen memindai keadaan jalan yang ramai dan diselimuti warna putih—tampaknya perjalanan mereka akan memakan waktu lebih dari lima belas menit

Rupanya, definisi Scazen mengenai ke kediaman Vezzadrauf adalah menaruh koper di ruang tamu, melepas syalnya, dan menyambut keluarganya sambil lalu. Lelaki muda itu bahkan berkata tidak pada tawaran Andromeda, sepupu dari keluarga ayahnya, untuk menikmati secangkir teh dan sepiring biskuit bersama. Waktu mereka di bawah atau tersebut begitu singkat, sampai-sampai Joanna merasa tidak enak dan menyikut Scazen agar pemuda itu berpamitan saat mereka akan pergi.

Ia tahu bahwa keluarga Vezzadrauf sendiri bukanlah keluarga paling harmonis. Ibu Scazen diceraikan begitu saja (tanpa pemberitahuan) dan diusir jauh-jauh (sekarang sedang tinggal di Cologne, Jerman. Bukan apa-apa, Joanna sering sekali mengirim kartu Natal kepada wanita itu). Ayah Scazen (entah bagaimana) memenangkan hak asuh atas putra tunggal mereka, dan mendidik keras Scazen hingga menjadi manusia terkaku yang ia kenal. (Atau yang Joanna sering katakan, kaku seperti tiang listrik.) Dan sama seperti pemuda itu kepadanya, Joanna tidak pernah berani mengungkit masalah keluarga Scazen, kecuali saat menerima balasan kartu Natal.

“Jo, ada makanan di rumahmu tidak?” Scazen bertanya sebelum mengetuk pintu kayu elk berwarna hitam di hadapannya. Pertanyaan itu dijawab dengan sebuah pukulan di lengan atas yang cukup keras. Cukup keras, karena pertanyaan tadi cukup bodoh bagi Joanna.

“Kalau lapar kenapa tidak minta Andy tadi?” Gadis itu melengos, lalu memasukkan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan ke dalam saku jaketnya.

“Malas. Lagi pula pai kranberi coklat buatan bibimu enak. Aku lebih kangen pai bibimu daripada biskuit Andromeda.”

Joanna melemparkan tatapan tajam.

“… Bercanda. Tapi aku benar-benar sedang tidak ingin makan makanan manis. Kalau croissant ham ada tidak?”

“Berisik, nanti lihat sendiri saja.” Dengan malas, Joanna mengetuk pintu, menunggu ayahnya membukakan pintu bagi mereka. Selang beberapa menit, putri tunggal Henri Fornier memutuskan untuk membuka sendiri pintu tersebut. Sebelum ia berangkat ke stasiun tadi, ayahnya masih bekerja di ruangannya. Mungkin sedang sibuk, jadi tidak membukakan pintu. Toh pintu utama jarang sekali dikunci.

Gagang pintu dibuka, dan daun pintu didorong. Derit engsel menggema di ruang tamu, memecah kesunyian ruang tamu yang diwarnai radio yang bervolume kecil. Tebakannya benar. Kalau radio itu menyala, itu berarti ayahnya sedang berada di rumah. Joanna membiarkan Scazen masuk terlebih dahulu sebelum menutup dan mengunci pintu utama. Diletakkannya tas tangan pemberian ibunya di atas sofa, kemudian langkahnya riang masuk ke bagian tengah rumah.

“Pa, Scazen datang!” Tatapannya berpindah pada pemuda itu yang melirik ke meja makan. Hah, memang benar-benar belum makan siang di Cambridge ya, orang ini? “Ada steak pie. Kalau mau coklat panas buat sendiri.”

“Kau yang terbaik.”

“Cepat, sebelum ayahku datang.”

“Oke, mungkin nanti saja.” Pernyataan tersebut membuat sang gadis menggulirkan manik keabuan miliknya. Gerak-gerik keduanya terhenti kala langkah kaki Henri semakin dekat. Scazen melepas beanie dari wolnya dan tersenyum saat pria paruh baya itu memandang mereka berdua keheranan.

“Oh, hai. Apa kabar, Scazen?” Aksen Inggris bercampur Prancis kental terdengar di setiap kata-kata yang keluar dar mulut Tuan Fornier. Tidak mengejutkan. Scazen tahu gadis yang sering menghabiskan waktu bersamanya adalah seperempat Prancis.

“Baik, paman. Paman sendiri?” Vezzadrauf muda tampaknya tidak menyadari keberadaan tempo cepat dalam kalimatnya, yang kemungkinan besar timbul karena rasa lapar. Joanna menepuk pelan punggung sang pemuda agar tidak kehilangan kendali saat berbicara.

(Pertama, tidak ada orang, termasuk dirinya dapat mengikuti alur bicara Scazen saat berbicara cepat. Kedua, agar sepasang mata yang berada di wajah itu tidak jelalatan melihat makanan-makanan kecil di atas meja makan rumahnya.)

“Aku baik-baik saja, terima kasih. Aku percaya kau kuliah dengan baik di Cambridge. Jurusan teknik, bukan? Er, tapi aku tidak bisa berlama-lama menyambutmu sekarang, karena masih banyak pekerjaan…””

Scazen mengangguk dan mengulas senyum kecil. Senyum yang akan disangka oleh orang lain adalah ekspresi kebanggaan atas keberhasilannya masuk ke salah satu universitas prestisius seantero Inggris, dan bahkan dunia. Tapi hanya gadis di sebelahnya yang tahu, bahwa senyuman itu kemungkinan besar karena semakin singkat percakapan pemuda itu dengan ayahnya, semakin cepat pula ia dapat makan siang.

“Iya, tidak apa-apa. Semoga bisnis paman lancar.”

“Ah, baiklah. Terima kasih. Dan Jo,” Joanna menoleh ke arah kepala keluarga Fornier yang memegang setumpuk kertas laporan keuangan. “Dublin atau London?”

Seketika, ia merasa kecewa mendengar pertanyaan tersebut alih-alih menerima izin sang ayah untuk berkeliling kota London dengan mobilnya. Ia melepaskan gigitan pada lidahnya dan menjawab dengan nada dingin. Tidak peduli kalau ia dianggap kurang ajar atau apa. Ia muak dengan pertanyaan tersebut menghantui liburan akhir tahunnya.

“Bisakah kita membicarakan ini nanti saja? Ada tamu.”

Andai saja mereka tidak bercerai.

“Aku mau pergi lagi bersama Scaz. Selamat bekerja, dad.” Setiap silabus dibalut oleh sarkasme yang direncanakan sang gadis agar terdengar jelas. Sebelum melangkah menjauhi pria itu, Joanna mendekat ke meja makan dan mengambil sebuah pastry berisikan apel dan madu serta dua buah croissant keju.

“Oh, satu lagi. Selamat makan malam sendiri. Aku makan di luar.” ucap Jo penuh penekanan, dan mendorong pemuda Vezzadrauf keluar bersamanya. Pintu itu ditutup dengan keras tanpa peduli ayahnya yang berdiri dengan berbagai macam penjelasan bergantung di ujung lidahnya.

“Ah, padahal aku menantikan steak pie itu.” ujar sang pemuda. Fokusnya bertumpu pada jalanan yang lengang dan motorik tangan dan kakinya di roda kemudi dan pedal mobil. Yang duduk di sebelahnya hanya melihat ke luar jendela samping, dan menjawab tanpa tenaga.

“Berisik.” Apanya yang liburan, kalau nyaris setiap tahun ia frustasi memikirkan dua tempat seperti ini? Joanna menghela napas dan mulai memakan kue apel manis yang sempat ia ambil untuk dirinya sendiri. Scazen menginjak rem saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah. Diamatinya gadis berpostur kecil itu yang tengah dirundung muram.

“Sebegitu tidak inginnya untuk memilih, ya?”

Joanna memalingkan wajahnya, tidak mau mempertemukan wajah Scazen dengan miliknya—gestur yang membuat sang pemuda tahu bahwa percuma saja ia bertanya, saat ia tahu betul jawabannya. Atau setidaknya, bagaimana seorang Joanna Magdalena Baxter-Fornier berpikir.

“Begini, aku punya satu tawaran karena sebentar lagi Hari Natal dan aku menyayangimu.” Mobil Volkswagen Golf itu masuk ke gigi pertama, melaju lambat kemudian cepat saat hijau menyala.

“Ayo pergi ke Oxford.” Nama kota itu, ternyata mampu menarik perhatian Joanna yang kini menatapnya tidak percaya. Scazen ingat betul temannya menarget Universitas Oxford untuk jurusan Biomedis, dan pikirnya, mengapa tidak mengajaknya untuk melihat-lihat suasana Oxford dan kampusnya? Ia yakin sepenuhnya Joanna tidak perlu berusaha sekeras dirinya untuk masuk ke salah satu universitas ternama di Britania Raya.

“Semalam, kita akan kembali sore hari tanggal 25.”

“Mengapa tiba-tiba…?”

“Karena aku tahu rasanya ditarik ke dua sisi.”

Bibir Joanna membisu. Selama beberapa saat, mereka membiarkan sepi menguasai. Penyeka kaca berayun, menghapus salju-salju nakal yang menempel dan menghalangi pandangan mereka. Keduanya bukanlah pecinta keheningan, namun entah mengapa, kali ini tidak keberatan membiarkan momentum di antara mereka dihabiskan dengan tidak berbicara sama sekali. Tapi, tentu saja, tidak ada hal yang bertahan selamanya, bukan?

“Jadi, bagaimana?”

Joanna mengangguk.

“Ayo ke Oxford.”

24 Desember

Joanna mengunci tas ranselnya setelah memastikan ia memiliki cukup pakaian hangat dan membawa peralatan mandinya. Setengah jam lagi, dan ia akan bebas dari beban pikirannya untuk sesaat dan berkeliling di kota universitas impiannya. Kotak-kotak makanan diisinya dengan berbagai macam kudapan buatan bibinya. Mulai dari profiterole, pai beri, saucijzenbroodje, dan berbagai macam pastry lainnya. Keuntungan memiliki bibi yang memiliki usaha toko pastry—kau mendapatkan semua sisanya yang masih segar tanpa mengeluarkan sepeser pun. Setelah itu, ia membawa termos yang berisi coklat panas yang ia campur dengan sedikit liquor kopi—campuran kesukaan Scazen. Semua itu ia lakukan dalam diam, berusaha tidak membuat kegaduhan yang membangunkan ayahnya.

Meski pada akhirnya, ayahnya selalu mengetahui niat rahasia putri tunggalnya yang telah mendiamkannya selama dua hari berturut-turut.

“Kemana?” Pertanyaan ayahnya dibiarkan menggantung tanpa jawaban. Henri Fornier menarik napas dan bertanya lagi. “Apa kau akan membiarkan bahkan panggilan Ma tidak terjawab?”

Tangannya meletakkan termos itu di dalam tas rotan bersama dengan makanan. Bunyi denting permukaan aluminium dan kaca meja makan teredam jalinan rotan. Cukup, ia sudah tidak ingin mendengar segala macam metode orang tua dalam membuat anaknya melakukan apa yang mereka mau.

“Aku butuh istirahat dari acara tahunan kalian, menanyaiku dan mengganggu liburan akhir tahunku sampai aku bosan.”

Ditatapnya lurus pria itu tanpa rasa gentar setitik pun. Ia bukan kurang ajar, ia hanya membela haknya untuk tidak diganggu liburannya. Henri Fornier tidak dapat berkata-kata, hanya mengangguk dan membiarkan anaknya mengambil keputusan sendiri kali ini.

“Baiklah. Katakan pada Scazen untuk menyetir pelan-pelan. Jalanan licin akhir-akhir ini.”

“Jangan telepon aku. Bilang itu pada Ma. Aku berangkat.”

Pintu itu, untuk kedua kalinya dalam seminggu ditutup dengan keras.

Scazen menyalakan mesin mobilnya—sebuah BMW 1 Series berwarna hitam yang dibelinya dengan susah payah (berkat sedikit bantuan dari ibunya dan Andy) dan mulai meninggalkan deretan rumah yang berjajar seperti mainan. Setelah memasuki jalan raya, ia memandangi Joanna yang masih malas-malasan melihat jalan. Surai pirang itu dibelainya singkat, dengan harapan dapat menghibur, menaikkan suasana hatinya yang sedang buruk meski hanya sesaat atau sedikit. Gadis Baxter-Fornier menghela napas dan menahan tangan si pemuda.

“Makin jelek kalau cemberut. Lebih baik pasang muka datar saja.”

“Berisik.”

Tangan yang ditahannya pun berpindah tempat, kali ini tepat berada di dalam genggaman tangannya. Jemarinya yang ramping dan lentik kontras dengan jari-jari Scazen yang kasar akibat proyek akhir sebelum liburan.

Rumah kecil milik teman Scazen sangat indah dan asri. Bukan gedung-gedung yang menjadi pemandangan, tetapi hamparan luas hijau yang tertutup putih. Angin segar menerpa wajahnya dan memainkan helai-helai emas kedua anak muda yang tengah mengambil ransel dari dalam lambung mobil. Jo berjalan menuju pintu dan menunggu Scazen membuka kunci.

“Jadi, tujuan pertama kita adalah…?” Nadanya kembali riang. Sekian kilometer meninggalkan London, wajah sang gadis berubah menjadi lebih cerah. Scazen mengeluarkan secarik kertas penuh dengan goresan pena—tulisan tangannya—lalu menyodorkannya pada Joanna yang menatap kertas tersebut dengan lamat.

“Pedoman kita.” jawab Scazen, sembari membuka pintu dan mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam rumah. “Jangan terlalu hiperaktif ya, bocah. Nanti tenagamu tidak cukup.”

“Masa bodoh, Scazen.”

Malam itu, menurut kertas pemberian Scazen yang nyaris tidak bisa dibaca—apakah semua mahasiswa teknik memiliki tulisan seperti ini?—mereka akan melihat orkestra di gedung teater Sheldonian, setelah itu berjalan-jalan di South Park sejenak sebelum kembali ke rumah.

“Besok kita ke Universitas Oxford?”

Joanna memandang tulisan itu sekali lagi sebelum memastikan kepada Scazen dengan tatapan tak percaya. Yang ditanyai hanya mengangguk singkat dan menarik Jo karena ia mulai berjalan menuju luar trotoar.

“Biomedis, ‘kan?”

“Scaz, aku tahu aku jarang sekali mengatakan ini, tapi aku menyayangimu dan aku bisa saja menciummu di tempat.”

“Jangan lakukan itu.”

“Itu hanya kiasan, Orang Galak Jerman.”

“Ya, ya. Terserah, bocah. Ayo, sebentar lagi mereka akan mulai.”

Selama perjalanan pulang, Joanna tiada henti membicarakan mengenai bagaimana pemain cello di orkestra tadi bermain dalam pertunjukan. Manik itu berbinar-binar, antusias terpancar dari kedua sel tersebut. Scazen hanya menggandeng tangan Jo sembari mendengarkan setiap kata yang lolos dari bibir yang telah dipulas tipis tersebut. Tidak heran mendengar ocehan-ocehan sahabatnya, karena dara keturunan Prancis itu sempat belajar memainkan biola, namun berhenti semenjak kedua orang tuanya bercerai.

“Aku tidak tahu mereka bisa melakukan pizzicato pada cello! Demi apapun, Scaz, jari mereka begitu lincah! Ah, aku kebanyakan ngoceh sampai lapar.”

Scazen tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Joanna. Apa-apaan? Ya ampun, sungguh lucu gadis di sebelahnya ini. Ditatapnya pemuda itu dengan bingung. Kerutan muncul di dahi, heran dengan reaksi Scaz atas pengakuannya.

“Kok ketawa, sih. Masuk yuk, aku benar-benar lapar.”

“Memangnya ada makanan?” Joanna mengangkat alisnya dan menunjuk ke arah tas rotan dan kulkas. Ah, bagaimana pemuda itu bisa melupakan bekal-bekal yang mereka bawa? Coklat racikannya pun masih tersimpan dalam termos yang ditutup rapat. Dipanaskan dengan mesin pembuat kopi seharusnya bisa.

“Kau lupa dengan pai yang diberikan bibiku? Setengah loyang sepertinya lebih dari cukup untuk kita untuk makan malam.” Terdengar bagus, pastry dengan coklat panas. Apalagi di luar mulai turun salju lagi. Scazen mengiyakan saja dan mulai mencari korek api untuk membakar gelondongan kayu dalam perapian. Iris cerah itu memindai ruangan tersebut, mencari keberadaan korek api di setiap sudutnya.

Ah, bingo.

Langkahnya dipacu menuju ke rak buku, dan diraihnya sebuah kotak kayu berisi korek api. Kakinya melangkah kembali ke perapian bersama puluhan korek api tersebut. Digesekkannya satu—yang langsung menyala dan membakar tekstur kasar kayu. Retihan mulai terdengar, menggelitik gendang telinga mereka berdua. Scazen memandangi api yang menari-nari tersebut dengan senyuman kecil. Terkadang, hal-hal kecil seperti inilah yang membuat hatinya senang.

Tiba-tiba, dari belakang, Jo berdeham dan menyerahkan segelas coklat panas yang mengeluarkan aroma alkohol ringan. Ah, satu lagi kebahagiaan kecil. Jo tahu benar apa yang disukainya.

Cheers, untuk kita berdua.” Jo mempertemukan keramik dalam tangan mereka. Pipinya mulai merona merah karena kehangatan yang menjalar dari jago merah yang menari riang dalam kelamnya malam Natal.

“Cheers.”

Keduanya menyesap coklat panas tersebut dan memunculkan reaksi berbeda. Joanna mengernyit, sementara Scazen mendesah. Bagi gadis itu, coklat panas mereka masih kurang manis. Sedangkan sang pemuda berpendapat sebaliknya—ini sangat cukup untuk seleranya.

“Terlalu pahit?” tanya Scazen, menyeruput coklat itu lagi sampai hanya tersisa setengah gelas.

Joanna menggeleng.

“Ada gula dalam kabinet di dapur, jika kau tidak tahu.”

Joanna menggeleng lagi. Tidak, meski tidak begitu manis, ia tidak menganggap minuman buatannya pahit di lidah. Rasa yang benar-benar baru baginya, dan ia sama sekali tidak keberatan. Diletakkannya gelas tersebut di atas meja kopi di ruang tengah. Permukaan mengkilap gelas memantulkan cahaya dari dapur api kecil di hadapan mereka.

“Sekarang, ceritakan padaku mengapa kau masih cemberut pagi ini.” ucap Vezzadrauf muda, memindai ekspresi putri pengusaha setengah Prancis itu dengan saksama. Asap mengepul di atas gelasnya, perlahan pudar dan hilang seiring berjalannya waktu. Joanna menghela napas panjang, dengan berat hati mulai bercerita.

“Kau tahu, selama delapan tahun terakhir ini aku hanya menginginkan satu hal: ayah dan ibuku benar-benar berada dalam satu ruangan yang sama dan bercakap-cakap, mengesampingkan semua drama mereka dan benar-benar memperhatikanku.” Ia masih bisa mengingat ketika semuanya baik-baik saja. Magdalena yang memperhatikannya saat main biola, ketiganya yang menyetir ke kota-kota lain di Inggris, Henri memeluk kedua perempuan yang paling berharga saat itu dan mencium puncak kepala keduanya. Semuanya masih terpatri, sangat jelas seperti terjadi beberapa jam yang lalu.

Tetapi lagi, tidak ada yang abadi dalam dunia ini, bukan?

“Apakah aku meminta terlalu banyak?” tanyanya pada pemuda itu, yang memainkan buku-buku jarinya sembari mendengarkan perasaan sahabatnya. Familiar. Itu yang ia rasakan kala mendengar kata-kata Joanna.

“Tidak.” Karena ia pernah meminta kepada entitas di atas segalanya untuk memberi kedamaian dalam keluarganya, sebuah permintaan yang tak pernah dijawab, hingga ia memalingkan diri dari kepercayaannya. “Memangnya kadang aku tidak kangen dengan mutti—maksudku, ibuku?”

Joanna memandang wajah Scazen. Senyuman lemah itu. Senyuman yang sama yang ditemuinya beberapa tahun lalu saat gadis Baxter-Fornier mengetahui bahwa ayah Scazen sangatlah abusif secara verbal dan fisik.

“Kau harus tahu aku senang sekali pindah ke Cambridge, karena aku sudah tidak sepenuhnya berada di bawah kendali si brengsek…” Ganti sang pemuda yang menumpahkan isi hatinya. Kelembutan telah direnggut jauh darinya, dan kini yang tersisa hanyalah tangan baja tanpa belas kasih. Kadang-kadang, ia ingin sekali kabur dari semuanya. “… dan betapa aku ingin naik ke satu pesawat menuju ke Jerman untuk mengunjungi ibuku.”

Suara kayu yang terbakar mengisi kekosongan selama beberapa detik. Kedua tatapan saling bertemu dan terpisah karena Joanna memutuskan untuk menikmati coklat panasnya lagi.

“Scazen kangen ya?” Pemuda itu mengangguk. Joanna menyesap likuid coklat pekat dalam gelasnya dan berkata. “Sayang ya, kita bukan miliarder yang dapat memesan tiket ke negara mana pun tanpa memikirkan biayanya.”

Tawa singkat pecah, lolos dari bibir Scazen Vezzadrauf yang menerawang tembok berhiaskan cahaya jingga api. “Oh, kalau aku adalah orang kaya, aku sudah berada jauh dari London, Jo.”

“Dan meninggalkanku? Aku kira persahabatan kita nyata, Scaz.” Jo mendengus dan menatap mata biru muda itu baik-baik. Berapa lama mereka sudah tidak bercakap dari hati ke hati seperti ini? Mungkin hanya beberapa bulan semenjak pemuda itu pindah ke salah satu kota terbesar Inggris selain London. Scaz menjentikkan jarinya di dahi Joanna. Tentu saja maksudnya bukan seperti itu, lagi pula, Jo adalah satu-satunya yang benar-benar memahaminya selain sang ibu di dataran Eropa yang lebih timur.

“Tapi… Kalau seumpama aku pindah ke Jerman, apa yang kau lakukan, Jo?” Kali ini, nadanya menjadi serius. Ia hendak memancing reaksi sahabatnya. Mereka secara teknis adalah kesatuan sejak kecil. Dimana ada Joanna, di situ ada Scazen. Gadis itu menggeleng dan tersenyum lemah. Ada kesedihan tergurat di kerutan bibir itu.

“Entah. Aku tidak bisa membayangkan pertemanan kita bertumpu sepenuhnya pada media-media seperti Skype. Berbicara denganmu saat kamu di Cambridge saja rasanya aneh.”

“Kau mau tahu sesuatu?”

Kepala sang dara mengangguk. Matanya berkedip dua kali, mengizinkan sahabatnya melanjutkan kata-katanya. Scazen menarik napas dan mengembuskannya. Berat di beban, yang dapat dibuang karena ia menyatakannya dengan terus terang. “Aku juga merasa aneh. Biasanya kamu mendatangiku setiap hari dan sekarang aku merasa seperti berbicara pada patung lewat panggilan video.”

Kekehan lolos dari mulut Joanna yang berlapis cairan coklat panas dan likuor kopi. Kebahagiaan membuncah di dadanya mendengar kata-kata hangat dari pemuda berambut pirang perak tersebut.

“Aku senang mendengar itu, entah mengapa.”

Bertanya-tanya pun tak ada gunanya. Karena hatinya sendiri pun tak tahu harus menjawab apa. Kepalanya tak menyimpan jawaban yang dicari seperti ia menyimpan memori-memori kecil tentang keluarganya dan Scazen. Joanna menyandar manja di bahu pemuda itu, lalu meminum habis coklat panasnya yang mendingin. Tangan besar merayap, membelai kepalanya—menyalurkan kehangatan ekstra.

“Asal kau tahu, Jo.”

“Ya?”

“Aku tidak keberatan berada di tempat mana pun, dalam keadaan apa pun selama ada dukungan darimu.” Dikecupnya dahi Joanna dengan lembut. Gadis itu sudah memejamkan matanya, rupanya. Ah, sudahlah. Yang penting ia sudah mengatakannya, bukan?

“Selamat Natal.”

“Selamat Natal juga, Orang Galak Jerman.” ucap Joanna lemah, membuat pemuda berdarah Jerman itu tersenyum dan mendekapnya lebih dekat.

Selamanya, Joanna Baxter-Fornier akan mengingat malam natal di Oxford sebagai coklat panas yang diminumnya. Rasa asing yang membuatnya nyaman. Bukan yang termanis, namun jelas bukan yang mudah terlupakan.

// scazen (c) @angustifiola

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s