tatap pertama;

Akhir tahun adalah saat-saat paling sibuk bagi fotografer seperti Baek Kihyun. Bulan ini, ia mendapat berbagai macam tawaran pekerjaan untuk sejumlah acara. Terhitung dari awal bulan Desember, ada sekitar sepuluh klien yang menjalani sesi pemotretan pranikah, tujuh acara pernikahan, lima sesi pemotretan pribadi, dua acara Natal, dan penutup manis bulan sekaligus tahun ini: sebuah acara akbar menyambut tahun baru di Seoul. Saking sibuknya, Kihyun memindahkan sebagian dari isi lemarinya di mobil—termasuk tiga setel jas, kemeja dalam berbagai warna, celana panjang, dan pakaian kasual—untuk memudahkan dirinya berganti baju setelah pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya.

Fotografer muda itu duduk di sebuah meja yang terletak di deretan paling belakang, mengambil napas setelah berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain demi mengambil foto dengan sudut yang tepat. Dasi hitam pada kemejanya dilonggarkan sedikit agar napasnya lebih leluasa. Lelah juga berkeliling di pesta meski nyaris setiap minggu ia bergerak seperti ini.

Baiklah, itu mungkin karena tempat-tempat di mana ia biasa memotret tidak seluas aula di Ritz-Carlton Seoul.

Kihyun berdiri kembali, mengakhiri waktu istirahatnya dan mengambil kamera digital SLR yang ia letakkan di atas meja. Tutup lensa berpindah ke dalam saku celananya. Saatnya kembali bekerja. Tatapan pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu terjangkar pada layar kamera yang menampilkan mode pengaturan. Harus menyiapkan yang terbaik, itu semboyan dan etik kerja sang fotografer muda. Jarinya dengan cekatan memutar dan menekan beberapa tombol. Kemudian, ia mengambil gambar—test shot—untuk melihat buah dari white balance dan pewarnaan yang dipilihnya.

Baek Kihyun menggigit bibirnya.

Terlalu dingin—gambar tersebut didominasi rona biru. Dengan interior aula hotel yang serba musim salju, jelas dibutuhkan sedikit kehangatan dari manipulasi temperatur. Jemarinya kembali bermain dengan kameranya, menaikkan mode suhu foto sembari menaikkan diafragma. Niat awalnya adalah mengambil pemandangan ramainya pesta ini dari sudut aerial dan kejelasan yang tajam, yang terurung karena kedatangan rekannya, Kim Joon. Rambut pemuda yang lebih tua yang semula takluk kepada jel rambut pun kini menjadi sedikit berantakan.

Sunbae, rambutmu…” Kihyun mengulum senyum, berusaha keras menahan tawa menyaksikan seniornya dengan wajah kusut dan surai liar mengganti lensa sembari mengatur napas. Tawanya pun lepas saat upaya Joon untuk menurunkan beberapa helai yang berdiri tegak gagal. Joon melemparkan tatapan yang segera membungkam mulut pemuda Baek.

“Berisik. Sudah dapat berapa foto kamu?”

Kihyun memeriksa kembali galeri kamera, mengingat-ingat sudah berapa gambar yang diambilnya di SLR miliknya. Matanya terbelalak kala mengetahui bahwa jumlah potretan di kameranya mencapai tiga digit berkepala enam. Banyak juga, ternyata. Ia bahkan tak sadar sudah memfoto sebanyak itu. Mulai dari dekorasi, tamu yang berdatangan di awal acara, sesi sound check, makanan, dan sebagainya hingga yang paling terakhir adalah kenampakan setengah ruangan pesta.

“647 foto, sunbae.” Jawabannya disertai seringai kecil. Kurang lebih sembilan puluh menit acara telah berjalan dan sudah  ada—berdasarkan hitungan kasarnya—seratus atau dua ratus foto dengan hasil maksimal. Alis Joon naik, bersembunyi di balik bingkai kacamata si fotografer senior. Tidak buruk, kinerja rekannya. Ia menggestur dengan tangannya kepada Kihyun, meminta lihat kamera milik juniornya.

Bagus—ada yang representatif, ada pula yang menyeluruh.

Tetapi entah mengapa, ia merasa ada yang kurang. Dalam ratusan foto, ia jarang melihat ekspresi-ekspresi para tamu dan pengisi acara. Elemen seperti itu vital, karena tidak hanya untuk dokumentasi pihak yang mengadakan acara, foto-foto tersebut (apa bila cukup bagus di mata subjeknya) dapat menjadi tambang emas bagi mereka. Memento dalam beberapa carik kertas, berbentuk momen mentah yang tak direkayasa.

“Coba ambil gambar candid dari beberapa tamu. Sepertinya hasilnya akan menjadi cukup menarik.” ucap Joon, tangannya menyerahkan kembali kamera Kihyun. “Direktur Nam menyuruh kita menjual hasil foto tamu di luar photobooth juga, ‘kan?”

Kihyun terdiam, mengingat kembali instruksi yang ia terima. Sepertinya memang Direktur Nam, wakil ketua pelaksana perayaan penyambutan tahun baru ini, mengatakan sesuatu tentang menjual buah potretan mereka. Tali kamera dari kulit melingkari pergelangan tangannya. Ini pekerjaan mudah, menangkap raut-raut wajah tamu di tengah-tengah berjalannya acara. Kebetulan, putra tunggal Baek Jingu sedang bereksperimen dengan genre fotografi ingenue—yang mudah dicari dalam keramaian dalam sebuah gedung di jantung Korea Selatan. Yang harus ia lakukan hanyalah mencari objek berjenis kelamin perempuan.

(Tetapi profesionalitas akan menahan hasratnya untuk memuaskan rasa penasaran personalnya. Oh.)

“Baiklah, aku ambil bagian sini, ya, sunbae.” Telunjuk dan jempol Joon menyatu, membentuk sebuah bulatan yang menjadi aba-aba untuk memulai segmen candid. Kihyun berjalan ke dekat sebuah meja. Alat pengatur cahaya pada kameranya mengeluarkan bunyi ceklikan, menangkap sosok seorang pria paruh baya sedang minum anggur. Bola matanya bergulir ke samping, tidak melihat ke dasar gelas. Kihyun terkekeh dan mengambil foto lagi.

Bunyi shutter kembali terdengar—kameranya terfokus pada anak kecil-anak kecil yang berlarian ke dekat panggung. Selama beberapa lama, pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu menekan tombol kameranya dan berhasil menciptakan berbagai ragam momen candid. Ada dua sahabat yang duduk berdampingan sedang tertawa bersama. Berikutnya, seorang pasangan yang bertukar pandangan penuh makna yang hanya diketahui dua insan tersebut. Lalu seorang wanita dalam masa tuanya menatap dalam-dalam cincin yang tersemat di tangan kanannya. Beberapa tamu yang sadar sedang dipotret pun sempat ditangkap oleh lensa kamera sang pemuda.

Kihyun tersenyum puas melihat hasil-hasil jepretan kameranya. Mungkin satu atau dua gambar lagi ia akan selesai dengan momen candid dan berpindah ke area dekat panggung. Kameranya diangkat. Tubuh lensa diputarnya, mempersempit zona foto dengan memperbesar objeknya di balik satu meja berlabel Seoul National University.

Lagi, ia menekan tombol kamera yang diarahkan ke sekumpulan mahasiswa yang atensinya tertuju pada pemusik-pemusik di atas panggung. Bibirnya pun mengulas senyum—puas, ia puas akan gurat yang terpampang di wajah tiap-tiap orang yang diambil gambarnya. Kihyun segera mengecek foto terakhir tersebut. Ibu jarinya bergerak cepat menuju tombol galeri.

Akan tetapi, tatkala manik coklat pemuda Baek menilik thumbnail foto paling akhir tersebut, senyumnya langsung memudar. Alih-alih suasana ramai, ia malah mendapatkan foto yang hanya terfokus pada satu orang. Sang pemuda memperbesar foto tersebut dan tertegun memandang objek yang diabadikannya.

Seorang gadis berparas elok dalam balutan gaun merah muda pucat, dengan riasan minimalis. Rambut coklat tuanya diangkat sebagian dan diatur dalam ikal yang jatuh alami di depan dadanya. Gadis tersebut menopang dagunya dan menerawang ke satu titik, abai akan teman-temannya yang menikmati hiburan pesta.

Ekspresi yang begitu sederhana, namun kian menarik sang fotografer laki-laki untuk tetap memperhatikan tanpa henti. Sejumlah orang melewatinya, mengucapkan permisi. Tetapi hal itu tidak digubrisnya sedikit pun. Sama halnya dengan sorakan-sorakan para fans sebuah band akustik yang sedang tampil di atas panggung membawakan lagu-lagu terbaik mereka tahun ini—semuanya teredam di pendengaran Kihyun.

(Sial, ternyata ada gadis semenawan ini—yang tanpa usaha sedikit pun dapat membuat jantungnya serasa ingin keluar dari jeruji rusuk.)

“Oi, Kihyun!”

Kamera di kedua tangannya nyaris terjatuh. Pemuda yang dipanggil meraih keseimbangan kamera dan tubuhnya, buru-buru mematikan kamera, lalu membalikkan tubuh ke asal suara. Rupanya Han Haejin, salah satu seniornya yang lain, yang bertanggung jawab atas tim video. Ah, apakah ia akan kena marah sekarang karena melamun dan menghalangi jalan…?

“Kau sedang melihat apa sih? Ada penampakan di salah satu fotomu, ya?” Lengan senior Han melingkari pundaknya. Baek Kihyun menggeleng, wajahnya lebih tenang (atau lesu?) ketimbang biasanya. Tentu saja ekspresi tak lazim tersebut menarik perhatian videografer berusia tiga puluh tahun itu. Pasalnya, walau mereka jarang sekali bertemu saat bertugas, Haejin mengenal Kihyun di luar pekerjaan. Tidak mungkin seseorang yang penuh semangat menjadi tak berdaya dalam hitungan detik. Pastilah ada sesuatu yang salah.

Belum tentu ada penampakan, memang. Toh barusan hanyalah candaan belaka. Haejin tertawa renyah dan menepuk-nepuk punggung rekannya yang masih menatap kosong lantai berselimut karpet.

“Wah, sepertinya benar. Hapus saja fotonya, nanti minta pastor untuk mendoakanmu dan kameramu. Ayo, kembali kerja.”

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kihyun mengiyakan dengan anggukan lemah. Tangannya yang dililit tali dari kulit dan menggenggam bodi kamera perlahan diangkat. Tombol power dinyalakan lagi, layarnya masih menampilkan foto yang sama.

Seorang gadis yang mengandaikan sesuatu.

Semua ‘sesuatu’, kecuali Baek Kihyun.

“… Kihyun!”

Aneh, bagaimana semesta mengatur jalan hidup setiap entitas di muka bumi. Ada jalan yang bersimpangan untuk sesaat, ada yang tak pernah bertemu, ada yang berpisah di cabang jalan, dan ada yang bersatu dalam muara darat.

Hanya analogi sederhana, dengan arti yang cukup dalam untuk membuat seorang pemuda bermarga Baek dan bernama Kihyun—yang biasa disetir oleh impulsivitas—berpikir. Berpikir tentang seorang gadis. Demi apa pun, seumur hidupnya ia tidak pernah dapat mempertahankan sebuah hubungan romansa selama lebih dari tiga bulan atau pun memandang seorang gadis yang berjalan bersamanya dengan afeksi penuh. Kau tahu, ia bahkan mendapatkan julukan di kampusnya sebagai lady-killer nomor wahid seantero fakultas seni saat masih menyandang status sebagai mahasiswa.

“Kihyun!”

Dan malam ini, di penghujung tahun, ia terpaku hanya karena satu gambar yang seharusnya tidak memiliki makna baginya sama sekali. Sudah berapa tawaran makanan dan minuman dari teman-teman divisi dokumentasi yang ia tolak selama setengah jam terakhir? Lalu, berapa panggilan dari seniornya sudah tidak ia indahkan? Selama riwayat kariernya, Baek Kihyun tidak pernah mencoreng profesionalitasnya seperti ini.

Apakah ia sudah gila?

“Hei, Baek Kihyun!”

Panggilan tadi bak sebuah tepukan keras di bahu atau punggungnya. Kontan saja Kihyun menoleh ke orang yang menyebutkan namanya, dengan setengah fokus dan ekspresi hampa terpatri pada wajahnya.

“Ada apa denganmu sih? Habis bertemu mantan, ya?”

Kihyun menggeleng pelan. Terbayang di kepalanya adalah sosok dalam gaun merah muda pucat yang bergerak anggun, sesekali membetulkan helaian coklat yang jatuh menutupi parasnya yang manis. Bagaimana rasanya menyentuh rambut yang nampak halus itu? Pemulas bibir warna apa yang biasa ia gunakan? Apa minuman favoritnya?

Hah, gadis itu benar-benar terjebak di dalam kepalanya, ya?

“Donghyuk,” Kihyun memandang rekannya yang menjadi penjaga pos pencetakan foto malam ini. Ia ingin tahu, kira-kira bagaimana reaksi temannya saat ia menceritakan apa yang dialaminya barusan? “Seumpama ada orang yang tidak kau kenal, mencuri perhatianmu dari semua hal, dan membuatmu memikirkan hal-hal kecil yang tidak penting seperti parfum apa yang ia kenakan sekarang—menurutmu itu gila tidak?”

Donghyuk mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan fotografer asal Busan di sebelahnya. Alasannya yang pertama, pertanyaannya sangat panjang hingga ia perlu memikirkan dua kali makna kalimat tersebut; Alasan kedua, Baek Kihyun adalah manusia yang jarang sekali membicarakan bagaimana perasaannya terhadap seorang gadis kecuali saat ia memutuskan hubungan-hubungannya yang sudah lalu. Tipikal laki-laki yang lebih memilih pergi ke klub malam ketimbang terjebak di rumah, makan malam atau menonton film bersama seorang gadis.

“Dalam kasusmu, ya, mungkin kau sudah gila. Sudah berapa gelas alkohol yang kau minum, Baek Kihyun?”

“Kau lihat sendiri aku bahkan tidak makan atau minum selama satu jam terakhir, Yeo Donghyuk.”

“Setengah. Kita baru bertemu setengah jam yang lalu.”

“… Ya, itu maksudku. Setengah jam sebelumnya aku juga tidak makan atau minum, asal kau tahu.”

“Barangkali ada yang menukar jatah air mineralmu dengan vodka atau sesuatu.” Donghyuk mengendikkan bahu dan mulai memindahkan kertas-kertas foto ke dekat mesin pencetak. Kihyun mengambil setumpuk yang lain dan meletakkannya di sebelah tumpukan yang diletakkan oleh Donghyuk.

“Aku serius. Apa aku gila?”

Si pencetak foto hanya mengangguk sembari tersenyum tipis yang memiliki makna entah apa, membuat Kihyun melengos dan kembali duduk di hadapan sebuah kamera dengan lensa tele—sepertinya milik senior Kim. Pemuda Yeo ikut duduk, mengamati ekspresi mitra kerjanya dengan lamat.

“Kau baru memotretnya, ya?” Karena akui saja, semua fotografer yang berada di bawah atap Hotel Ritz-Carlton di ibukota Korea Selatan tidak mudah melanggar kode etik kerja tidak tertulis mereka yang berbunyi ‘No flirting while working’. Jadi ada empat skenario bagi mereka dalam menemukan pasangan: bertemu secara langsung saat bekerja (baik sesama fotografer, klien, maupun yang diundang ke acara), bertemu di luar pekerjaan, kenalan lama, atau menemukan yang atraktif dalam satu foto. Masih ada kemungkinan lain, namun Donghyuk tak dapat membantah intuisinya yang mengatakan bahwa Kihyun menemukan seorang gadis di salah satu hasil potretannya.

Dalam diam, Kihyun mengangguk. (‘Ha, ternyata tebakanku benar.’ pikir Donghyuk.) Kelopak matanya dipejamkan, masih berupaya mengusir sosok gadis yang membayang-bayang dalam benak. Ayolah, kenapa otaknya tidak mau berhenti memikirkan gadis tersebut? Rantai pikirnya terputus ketika Donghyuk berdeham dan mengulurkan tangannya, telapak menghadap ke langit-langit bagian luar aula.

“Mana kameramu, kita cetak foto sekaligus melihat siapa yang berhasil menjinakkan Baek Kihyun.”

Kihyun mengambil kameranya yang bertengger di atas meja, tepat di sebelah kamera dengan lensa tele yang tak kunjung dijemput pemiliknya, dan menyerahkannya pada Yeo Donghyuk—yang dengan cepat, mencabut dan menancapkan kartu memori milik Kihyun ke laptop. Beberapa saat kemudian, sebuah notifikasi yang menyatakan 698 foto telah disinkronisasi muncul di layar komputer.

“698 foto, Kihyun? Seriously?”

“Paling hanya sekitar dua atau tiga ratus yang terpilih.”

Donghyuk mendecak. Tangannya beristirahat di atas mouse dan mulai menggulirkan kursor ke segmen paling terakhir dalam kartu memori Kihyun—sesi candid para tamu. Di thumbnail ke-695, ia menemukan sosok yang ia yakini sebagai penyebab Kihyun bengong semalaman.

“Mahasiswi Seoul National University?” Refleks, Kihyun melirik ke foto tersebut, mencari-cari penanda meja yang mungkin ia lewatkan. Tidak ada apa-apa dalam foto tersebut kecuali wajah sang gadis. Ia tidak begitu memperhatikan tag pada tiap-tiap meja. Tetapi sepertinya, kalau ia tidak salah ingat, ia sempat menemukan satu yang bertuliskan Seoul National University.

“Bagaimana kau tahu? Kertas tagnya tidak ikut ditangkap, ‘kan?”

“Bodoh, kau tidak ingat ya, adikku diundang ke acara ini sebagai wakil jurusan hukum di universitasnya?” Kihyun terdiam. Yeo Aeri, adik Donghyuk, sering sekali mengunjungi studio mereka seusai kuliah. Katanya tempat kerja mereka memiliki nuansa dan suasana yang kondusif untuk mengerjakan tugas atau beristirahat.

“Tetap saja, tidak ada adikmu di fotoku.” Kihyun berkilah, memandangi foto di layar laptop dan menilik tiap-tiap titik, takut melewatkan sesuatu hanya karena fokusnya tetap tertambat pada wajah sosok menawan tersebut. Donghyuk menghela napas. Logika temannya sudah benar-benar ditumpulkan, hm? “Tidak ada penanda dan wajah adikku bukan berarti aku tidak menghampiri mejanya berkali-kali dan menjadi familiar dengan teman-temannya, ‘kan?”

Bibir pemuda Baek terkatup, tak mampu mengeluarkan sedikit pun suara. Sementara itu, Donghyuk menganalisis rupa sang dara untuk sesaat, kemudian memandang Kihyun, kembali ke gambar tersebut dan akhirnya ke pemuda di sampingnya lagi.

“Jujur, gadis-gadis yang pernah kaupacari jauh lebih cantik dibandingkan yang ini,”

Kihyun melengos.

“Aku hanya menyatakan yang sebenarnya.”

“Ya, ya. Lalu kenapa kalau mantan-mantanku lebih cantik dari dia?”

Donghyuk tertawa keras, sampai-sampai staf hotel yang berlalu-lalang melemparkan tatapan antara heran dan kebingungan kepada mereka. Satu pelayan yang membawa tumpukan piring kotor pun Kihyun suruh untuk tetap berjalan dan mengabaikan keberadaan dua pemuda—satu sinting, satu lagi berusaha menahan malu dan menahan hujan tatapan dari semua orang.

“Ya ampun, aku benar-benar sudah melihat semuanya. Sekarang aku bisa meninggal dengan tenang.”

“Yeo Donghyuk, berbicaralah dalam Bahasa Korea.”

Pemuda itu menarik napas, menghentikan gelak tawa yang menjadikan mereka pusat perhatian untuk sesaat. Ia berdeham, kemudian memandang Kihyun, dan melanjutkan perkataannya.

“Maksudku,” Tangannya meremas bahu Baek Kihyun dan menepuk pelan punggung itu sekali. “Baru kali ini aku menyaksikan Baek Kihyun menyukai gadis yang berada di luar tipenya. Biasanya kau mencari pacar untuk sandingan selama paling lama tiga bulan. Mungkin, mungkin, gadis ini adalah orangnya.”

Kihyun mendengus lagi.

“Kau berpikir terlalu jauh, Donghyuk.” Tidak akan dipungkiri oleh Kihyun bahwa ia sebenarnya berpikir seperti itu pula. Namun, seimajinatif apapun dirinya sebagai seorang fotografer, ia tetap berpegang pada realisme sebagai manusia biasa.

Kenalan saja belum, masa sudah berpikir untuk menikahi gadis itu.

Tiba-tiba saja, Donghyuk melemparkan sebatang pulpen ke arahnya. Dengan raut serius (dan kerlingan singkat pada mesin pencetak), ia mengangguk pada temannya. Si fotografer mengangkat alisnya, mempersilahkan pemuda yang satu lagi menjelaskan maksudnya.

“Waktunya kerja. Satu jam lagi menuju tengah malam, dan lewat dari tengah malam, banyak dari tamu-tamu itu berhamburan keluar. Nanti saja ya, curhatnya.”

“Oi, lantas pulpenmu untuk apa?”

“Bantu aku untuk mencatat suatu hal yang penting di balik foto-foto tersebut.”

Lagi, Kihyun menghela napas.

“Harga?” Pertanyaan barusan disambut dengan sebuah cengiran, dan anggukan dari pemuda Yeo. Agate Kihyun bergulir ke sudut mata.

“Benar.”

Yeo Donghyuk tidak berbohong. Lima belas menit lewat tengah malam, banyak tamu yang mulai melangkah keluar. Mereka pun mengerumuni stan mereka yang menjajakan ratusan foto-foto. Lembar demi lembar won berpindah tangan ke Donghyuk, Kihyun, dan Naeun—wanita yang bertanggung jawab dalam estetika pemaketan tiap lembar foto yang mereka cetak tadi.

Satu demi satu orang berlalu di hadapan mereka, mencari foto-foto mereka di photobooth ataupun yang candid. Beberapa hanya menemukan yang berada di pojok potret—toh meski begitu, mereka puas. Ada pula yang menemukan hasil foto candid mereka kurang bagus, ditinggalkan begitu saja.

Berulang kali tiga orang muda tersebut tersenyum, menunjukkan foto-foto candid dan bahkan mempersuasi para tamu untuk membeli. Bukan karena haus uang, namun karena itu hasil kerja keras mereka.

(Hei, mencetak itu susah juga, tahu.)

Sampai akhirnya, Kihyun berhenti menjaga stan tersebut sejenak untuk minum. Diletakkannya gelas tersebut di atas meja dekat mesin pencetak. Ia tidak melihat keberadaan gadis tadi. (Dan jangan lupakan, beberapa gadis meninggalkan nomor telepon mereka untuknya—yang disambutnya dengan senyuman hambar tanpa minat sedikitpun untuk menghubungi salah satu dari mereka.)

Apa mungkin sudah pulang? Kihyun tertawa kecil. Mungkin saja, bukan? Bukankah semesta hanyalah bapak-bapak tua yang suka bermain dengan setiap orang di muka bumi dengan kedok kata takdir? Jarinya bermain di mulut gelas sejenak, sebelum melangkah kembali ke stan. Sekembalinya ia di tempat duduk terpinggir yang dekat dengan tumpukan foto, Donghyuk menatapnya dengan sebuah senyum yang sumringah. Kihyun mendecak. Pemuda ini tidak pernah berhenti tersenyum, hm?

“Apa?”

“Kau akan suka melihat seseorang di antrian ini.”

Telunjuk temannya menempel pada meja, diam-diam menunjuk ke arah sosok dalam gaun merah muda. Gadis itu. Kihyun memalingkan wajahnya, sebelum Donghyuk mulai mengganggunya dengan berbagai macam ledekan, atau kata-kata penyemangat yang menjurus ke keusilan pemuda Yeo. Tetapi yang ia dapatkan, hanyalah sebuah tepukan di tengah-tengah punggung dan sodoran foto yang sempat ia beri label harga.

“Cobalah untuk berbicara dengannya, bung.”

(Mudah sekali untuk dikatakan. Padahal kenyataan tidak segampang membalikkan tangan. Kihyun menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam.)

Sekarang, giliran gadis itu. Donghyuk memegang tangan Naeun yang nyaris mengambil foto gadis tersebut, sekarang keheranan melihat tingkah mitra yang menahan aksinya. Kihyun menyodorkan hasil potretan Joon di photobooth terlebih dahulu.

“Ini milikmu.” Kata-kata tersebut terlafalkan dengan canggung. Pasalnya, ia sedang berada tak lebih dari lima meter dengan gadis tersebut. Wajah itu lebih manis dari dekat. Sial, tatapan datar itu membuatnya semakin gugup. “Err, aku… Bukan. Maksudku…”

Habislah sudah. Pasti gadis ini berpikir bahwa ia adalah orang aneh. Apa yang terjadi sekarang tidak lazim. Baek Kihyun belum pernah merasa gugup di dekat seorang gadis. Tarik napas, embuskan. Hanya kesempatan ini, Kihyun. Jangan sampai lolos dari tanganmu. Begitu ia mengulangnya dalam kepala.

“Hah. Maaf. Ada yang memotretmu di tengah acara. Mau mengambilnya sekalian?”

Gadis itu terdiam, berpikir sejenak. Ah, benar. Beberapa temannya mengambil lembaran foto ekstra. Memang sempat terlihat fotografer-fotografer berseliweran di dekat meja mereka tadi. Salah satunya pemuda ini, bukan?

“Boleh lihat dulu?”

Dalam hati, Kihyun bersorak-sorak kegirangan. Untung saja ia mau setidaknya melihat hasil foto tersebut—yang menurutnya secara objektif, bagus. Karena segi, pencahayaan, dan berbagai macam pengaturan yang tepat, foto tersebut menonjolkan gadis tersebut yang sedang termenung. Diserahkannya selembar foto berukuran 4R yang dibingkai dengan artpaper bermotif bunga berwarna ungu pucat dan dibungkus plastik transparan. Gadis itu menyentuh pinggir bingkai, perlahan memperhatikan wajahnya sendiri yang menerawang entah apa. Ekspresi yang tenang dan biasa, namun ada sesuatu yang membuatnya terlihat lebih… dirinya. Siapa pun yang mengambil foto ini, ia adalah fotografer yang baik.

“Berapa?”

Sudut bibir sang pemuda naik, lebih tinggi dari yang sebelumnya. Kalau saja orang-orang ini tidak ada, atau urat malunya sudah putus, ia akan berteriak sekencang mungkin.

“1200 won.” Kepalanya masih waras, omong-omong. Foto tadi berpindah ke tangan sang dara, yang mengulum senyum melihat foto tersebut terus menerus sebelum akhirnya mengeluarkan dompet dan memberikan 1200 won kepada pemuda di depannya.

“Terima kasih dan selamat tahun baru!” Kihyun mengulas senyum tipis yang tulus. Antara bahagia karena dapat menatap wajah itu dan bercakap-cakap singkat, atau bahagia karena hasil kerjanya diapresiasi oleh seorang gadis yang manis. Entahlah, mungkin keduanya? Yang tidak disadari olehnya, senyuman itu mencelos diri sang gadis sejenak, yang terdiam untuk beberapa saat sebelum membalas dengan suara pelan.

“Terima kasih dan selamat tahun baru juga…” Gadis itu berhenti berbicara. Atensinya tertuju pada tanda pengenal yang menggantung di leher pemuda itu. “… Baek Kihyun-ssi.”

Terucap begitu saja, di luar kendali. Tadinya ia tidak berniat sama sekali untuk melisankan nama pemuda itu. Buru-buru, ia membalikkan tubuhnya dan melenggang pergi. Masih banyak tugas yang harus ia kerjakan setelah ini. Model anatomi maxillofacial, laporan magang di klinik gigi selama sebulan terakhir, dan laporan eksperimennya di lab. Tidak boleh ada waktu terbuang, bukan? Sayangnya, langkahnya terhalang oleh sebuah sosok bodoh yang jelas tidak memperhatikan sekitarnya. Tubuhnya oleng, nyaris jatuh karena seorang pemuda yang dikenalinya sebagai salah satu staf yang menjaga stan foto. Tak hanya itu, barang-barangnya pun berjatuhan. Ia bersimpuh sejenak—menggunakan gaunnya sebagai alas, agar pola karpet tidak terproyeksi di kulitnya—dan mengambil barang-barangnya yang jatuh. Pemuda itu pun juga mengambilkan fotonya, dan mengorek label harga yang semula menempel di bagian belakang.

“Ah, maaf, nona. Aku sedang mencari adikku. Ini, maaf ya, sekali lagi. Selamat tahun baru!” Baru saja bibirnya bergerak untuk memprotes, sosok tersebut kembali pergi, mencari adiknya. Ia berdiri, memandang bagian luar aula tersebut dengan tatapan hampa sampai ia menyadari sesuatu.

Mengapa label tersebut dilepas?

Dibaliknya foto tersebut, pada sisi belakang bingkai yang memiliki motif sama seperti bagian depan dengan transparansi lebih, membuat keseluruhan bagian belakang tersebut lebih pucat. Di balik bekas label tersebut, ia menemukan sebuah tulisan khas kaum adam—sedikit berantakan, sedikit cepat, sedikit tajam. Gadis itu menahan senyumnya agar tidak membentuk di tengah keramaian tahun baru yang riuh dari segala penjuru Seoul.

 

Baek Kihyun

010-9203-1774

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s