valentine’s day drabbles: a tradition;

Oppa, The Silence Of the Lambs atau The Exorcist?”

Baek Kihyun berhenti memutar ulang klip-klip video yang tengah ia sunting dan menoleh ke arah kekasihnya yang masih menatap dua kotak DVD di atas meja. Gadis itu masih belum menentukan pilihannya, hm? Pemuda itu berdiri dan mengambil tempat duduk di sebelah Ahyoung, yang tengah mengernyitkan dahi sembari membaca sinopsis yang tertera di kotak DVD. Tangannya mengusap dagu kala ia melihat kover dua film horor fenomenal sepanjang masa di hadapannya. Sejujurnya, ia pun tak tahu harus memilih film apa—si fotografer muda bukanlah pecinta genre horor dalam dunia sinematik, hanya mengikuti gadisnya saja.

 

“The Exorcist, mungkin?” tanyanya, mengusap rambut Ahyoung dengan lembut. Pilihannya acak, asal kau tahu. Masih banyak yang harus dikerjakan olehnya sebelum pukul empat sore nanti—belum menghitung waktu untuk rendering video buatannya.

 

Ah, ya. Sudahkah ia menyebutkan kalau hari ini adalah Hari Kasih Sayang?

 

“Baiklah. Oppa selesaikan videonya dulu, ya. Jangan lupa pesan pizza. Aku mau yang pinggirannya diisi keju.”

 

Dan benar, mereka memiliki semacam tradisi di Hari Valentine selama tiga tahun terakhir. Menonton film horor dan makan pizza. Sesimpel itu, dan tidak picisan seperti sebuket bunga atau sekotak coklat. Manik hitam sang pemuda mengerling ke arah pintu—Ahyoung sudah kembali ke tempat prakteknya, yang berarti jam makan siang sudah berakhir. Sambil menghela napas, Kihyun kembali ke meja kerjanya dan menggeser lagu latar agar sinkron dengan gerakan-gerakan yang tertangkap oleh kameranya. Diburu deadline bukanlah perkara besar. Percayalah, masih ada yang ia harus pusingkan ketimbang menggabungkan audio dengan rangkaian klip para kliennya untuk video feed edisi Valentine perusahaannya.

Contohnya saja, siasat untuk terlihat tangguh di depan kekasihnya saat menonton The Exorcist nanti malam.

(Sungguh, ia heran bagaimana seorang gadis berperawakan mungil dan berwajah manis seperti Seo Ahyoung mampu tidak memejamkan mata sepanjang beberapa film horor.)

Damn it.” Kihyun menyandarkan kepalanya ke bahu kursi dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Seharusnya aku menyembunyikan semua film hororku.”

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s